Monday, June 8, 2015

Kisah inspirasi "kertas putihnya"



Ada seorang anak kecil yang jika sesuatu terjadi padanya maka dia akan marah-marah kepada orang lain. Apapun masalahnya, dia akan memarahi teman, saudara, bahkan ayah dan ibunya. Pokoknya, dia akan menyalahkan siapapun disekitarnya.
                Misalnya, jika dia tersandung sesuatu di dekat ayahnya maka dia akan menyalahkan sang ayah dan mengatakan bahwa seharusnya ayahnya tidak menaruh apapun di situ. Tapi ketika ada temannya terkilir, dia akan mengatakan kepada temannya itu, “Kamu tersandung karena kurang hati-hati. Seharusnya kamu berhati-hati ketika berjalan!”
                Suatu hari, anak itu berjalan-jalan di taman yang banyak pepohonan di sekitar desanya. Dia tertarik ketika melihat sarang lebah yang begitu besar dan berfikir alangkah lezatnya kalau bisa menikmati madu dari sarng lebah itu. Kemudian, diambilnya sebuah galah untuk mengusir lebah-lebahnya terlebih dahulu agar bisa mendapatkan sarangnya.
                Tiba-tiba, ratusan lebah yang diusirnya itu bukan menyingkir, tetapi malah mengamuk dan mengejarnya. Anak itu pun lari tunggang-langgang dengan menjerit-jerit. Tapi seberapa pun kencangnya dia berlari, dia tetap terkena beberapa sengatan sebelum akhirnya berhasil menceburkan tubuhnya ke sebuah kubangan kecil. Dan tak lama kemudian, para lebah pergi meninggalkan dirinya yang sedang kesakitan.
                Anak itu pun pulang sambil menangis, sampai di rumah, ia langsung menemui ayahnya yang kebetulan ada di rumah.
                “Kenapa ayah tidak segera menolongku? Jika ayah menolongku, semuanya tidak akan terjadi! Lebih bagus lagi, seharusnya ayah bersamaku ketika aku berada ditaman itu. Jadi, ayah bisa mencegahku mengganggu lebah itu. Pasti aku akan menurutinya dan tidak disengat seperti ini !” ujar anak itu sambil marah-marah kepada ayahnya.
                Ayahnya diam sejenak, ia sedih, terluka, kecewa, dan merasa tidak dihargai. Dia mengambil sebuah kertas putih dari dalam tas, dan menunjukkan kepada anaknya seraya berkata, “Anakku, apa yang kau lihat di kertas ini ?”.
                Anak itu bingung karena tidak ada apa-apa disana. Lalu dia menjawab, “hanya sebuah kertas putih kosong.”
                Selanjutnya, sang ayah mengambil pena dan memberikan titik kecil di tengah-tengah kertas itu. Setelah itu berkata, “sekarang apa yang kau lihat?”
“Ada titik!” seru si anak
                “Nak, kanapa kau hanya melihat titik hitam kecil ini ? padahal sebagian kertas ini berwarna putih. Begitu mudahnya kau menyalahkan ayah! Padahal masih banyak lagi hal baik yang pernah ayah lakukan kepadamu, “ kata sang ayah.

#########

                Pernahkah seseorang melakukan sebuah kesalahan kepada kita, lalu kita tidak mengajak berbicara lagi ? pernahkah kita berteman lama dengan sesorang, kemudian ada sesuatu yang dia lakukan sampai membuat kita marah, hingga kita mendiamkannya sekian lama ? pernahkah orang terdekat kita melakukan hal yang tidak kita sukai, kemudian kita marah-marah dan terus kita mengungkit hal itu kepadanya ?
                Lain kali, mungkin kita bisa lebih memperhatikan tentang banyaknya kebaikan yang sudah mereka lakukan kepada kita daripada satu atau dua kesalahan kecil. Sungguh tidak adil jika kita menyalahkan orang gara-gara sedikit kesalahan yang dibuatnya, padahal itu tidak sebanding dengan banyaknya kebaikan yang telah mereka berikan kepada kita.
                Sebenarnya, kita bisa saja terus menyalahkan pemerintah, menyalahkan sistem pendidikan, menyalahkan keadaan, dan menyalahkan teman-teman. Atau, kita bisa melihat lebih dalam dan lebih bertanya kepada diri sendiri tentang berbagai kebaikan yang sudah kita terima dari semua orang sebelum menyalahkan dan menjauhi.

sumber : book lelaki, gadis, dan kopi campur garam

No comments:

Post a Comment