Ada seorang anak kecil yang jika
sesuatu terjadi padanya maka dia akan marah-marah kepada orang lain. Apapun
masalahnya, dia akan memarahi teman, saudara, bahkan ayah dan ibunya. Pokoknya,
dia akan menyalahkan siapapun disekitarnya.
Misalnya,
jika dia tersandung sesuatu di dekat ayahnya maka dia akan menyalahkan sang
ayah dan mengatakan bahwa seharusnya ayahnya tidak menaruh apapun di situ. Tapi
ketika ada temannya terkilir, dia akan mengatakan kepada temannya itu, “Kamu
tersandung karena kurang hati-hati. Seharusnya kamu berhati-hati ketika
berjalan!”
Suatu
hari, anak itu berjalan-jalan di taman yang banyak pepohonan di sekitar
desanya. Dia tertarik ketika melihat sarang lebah yang begitu besar dan
berfikir alangkah lezatnya kalau bisa menikmati madu dari sarng lebah itu.
Kemudian, diambilnya sebuah galah untuk mengusir lebah-lebahnya terlebih dahulu
agar bisa mendapatkan sarangnya.
Tiba-tiba,
ratusan lebah yang diusirnya itu bukan menyingkir, tetapi malah mengamuk dan mengejarnya.
Anak itu pun lari tunggang-langgang dengan menjerit-jerit. Tapi seberapa pun
kencangnya dia berlari, dia tetap terkena beberapa sengatan sebelum akhirnya
berhasil menceburkan tubuhnya ke sebuah kubangan kecil. Dan tak lama kemudian,
para lebah pergi meninggalkan dirinya yang sedang kesakitan.
Anak
itu pun pulang sambil menangis, sampai di rumah, ia langsung menemui ayahnya
yang kebetulan ada di rumah.
“Kenapa
ayah tidak segera menolongku? Jika ayah menolongku, semuanya tidak akan
terjadi! Lebih bagus lagi, seharusnya ayah bersamaku ketika aku berada ditaman
itu. Jadi, ayah bisa mencegahku mengganggu lebah itu. Pasti aku akan
menurutinya dan tidak disengat seperti ini !” ujar anak itu sambil marah-marah
kepada ayahnya.
Ayahnya
diam sejenak, ia sedih, terluka, kecewa, dan merasa tidak dihargai. Dia
mengambil sebuah kertas putih dari dalam tas, dan menunjukkan kepada anaknya
seraya berkata, “Anakku, apa yang kau lihat di kertas ini ?”.
Anak
itu bingung karena tidak ada apa-apa disana. Lalu dia menjawab, “hanya sebuah
kertas putih kosong.”
Selanjutnya,
sang ayah mengambil pena dan memberikan titik kecil di tengah-tengah kertas
itu. Setelah itu berkata, “sekarang apa yang kau lihat?”
“Ada titik!” seru si anak
“Nak,
kanapa kau hanya melihat titik hitam kecil ini ? padahal sebagian kertas ini
berwarna putih. Begitu mudahnya kau menyalahkan ayah! Padahal masih banyak lagi
hal baik yang pernah ayah lakukan kepadamu, “ kata sang ayah.
#########
Pernahkah
seseorang melakukan sebuah kesalahan kepada kita, lalu kita tidak mengajak
berbicara lagi ? pernahkah kita berteman lama dengan sesorang, kemudian ada
sesuatu yang dia lakukan sampai membuat kita marah, hingga kita mendiamkannya
sekian lama ? pernahkah orang terdekat kita melakukan hal yang tidak kita
sukai, kemudian kita marah-marah dan terus kita mengungkit hal itu kepadanya ?
Lain
kali, mungkin kita bisa lebih memperhatikan tentang banyaknya kebaikan yang
sudah mereka lakukan kepada kita daripada satu atau dua kesalahan kecil.
Sungguh tidak adil jika kita menyalahkan orang gara-gara sedikit kesalahan yang
dibuatnya, padahal itu tidak sebanding dengan banyaknya kebaikan yang telah
mereka berikan kepada kita.
Sebenarnya,
kita bisa saja terus menyalahkan pemerintah, menyalahkan sistem pendidikan,
menyalahkan keadaan, dan menyalahkan teman-teman. Atau, kita bisa melihat lebih
dalam dan lebih bertanya kepada diri sendiri tentang berbagai kebaikan yang
sudah kita terima dari semua orang sebelum menyalahkan dan menjauhi.

No comments:
Post a Comment