Suatu hari setelah berceramah,
seorang ustad ditanya oleh seorang nyonya, “saya baru tahu pagi ini, bahwa
suami saya berdusta kepada saya. Apakah saya harus bercerai ? karena, saya
sepertinya sudah tidak percaya lagi kepadanya.”
Nyonya itu bekerja di Universitas
dan mengajar matematika. Dia sudah menikah dengan suaminya yang dia keluhkan
itu selama tiga tahun.
Karena nyonya itu tahu benar tentang
matematika maka ustad itu menjawab, “baiklah, mari kita berhitung statistiknya.
Tiga tahun itu kurang lebih 1.000 hari. Kita asumsikan saja, selama menikah,
suami nyonya mengatakan sesuatu rata-rata 20 hal kepada anda setiap hari yang
bisa saja benar atau salah. Jadi, ketika menikah dengan nyonya, ia sudah
mengatakan sekitar 20.000 pernyataan. Dan beberapa waktu lalu, dia mengatakan
satu kebohongan. Menurut teori peluang, itu berarti ketika dia membuka mulutnya
lagi, ada kemungkinan dia berkata jujur 20.000 kali dan berkata bohong hanya
satu kali.
Ustad itu melanjutkan, “jadi hanya
karena dalam 20.000 pernyataan yang dia sampaikan selama ini, dan hanya satu
yang tidak benar, itu menjadikannya tidak bisa dipercaya lagi ? sepertinya
20.000 berbanding satu itu sangat bagus.”
#######
Kita terlalu memusatkan perhatian
pada kesalahan, pada kotorannya, bukan pada telurnya, kita membiarkan satu
bagian negative menghancurkan semua bagian positivenya.
Setiap ayam bertelur, sering kali
disertai kotoran. Kalau seseorang terlalu perhatian pada kotorannya, bisa-bisa
dia tidak akan mengambil telur itu. Padahal, kotorannya (yang hanya berada di
kulit telur) bisa dibersihkan dan telur ayam itu enak dan menyehatkan.
Ini sering terjadi, ketika orang
yang dekat dengan kita melakukan sesuatu kesalahan, tiba-tiba saja kita
mendapatkan kekecewaan yang sangat berat.
Sebenarnya bukan mereka yang melukai
kita, melainkan harapan kita yang melakukannya. Kita terlalu berharap bahwa
orang terdekat atau pasangan kita ‘sangat baik’ sehingga tidak akan melakukan
kesalahan. Kita lupa bahwa mereka manusia. Kita lupa bahwa kita pun kadang-kadang
juga melakukan kesalahan.
Satu hal yang harus kita lakukan
ketika orang yang dekat dengan kita melakukan kesalahan adalah melihat kembali
dia secara keseluruhan. Jika ini adalah kesalahan yang tidak fatal dan terlalu
besar, berarti seharusnya tidak masalah. Ada begitu banyak kebaikan darinya
yang tentu saja kalau dihitung akan menang telak daripada keburukannya. Lalu,
lepaskan kesalahan sederhana itu dan buat perjanjian dia tidak mengalami
kesalahan sama atau serupa. Berhenti hanya melihat keburukan, dan mencoba
melihat kebaikan.
sumber : book lelaki, gadis, dan kopi campur garam

No comments:
Post a Comment