Thursday, June 11, 2015

Kisah inspiratif "bercerai"





            Suatu hari setelah berceramah, seorang ustad ditanya oleh seorang nyonya, “saya baru tahu pagi ini, bahwa suami saya berdusta kepada saya. Apakah saya harus bercerai ? karena, saya sepertinya sudah tidak percaya lagi kepadanya.”
            Nyonya itu bekerja di Universitas dan mengajar matematika. Dia sudah menikah dengan suaminya yang dia keluhkan itu selama tiga tahun.

            Karena nyonya itu tahu benar tentang matematika maka ustad itu menjawab, “baiklah, mari kita berhitung statistiknya. Tiga tahun itu kurang lebih 1.000 hari. Kita asumsikan saja, selama menikah, suami nyonya mengatakan sesuatu rata-rata 20 hal kepada anda setiap hari yang bisa saja benar atau salah. Jadi, ketika menikah dengan nyonya, ia sudah mengatakan sekitar 20.000 pernyataan. Dan beberapa waktu lalu, dia mengatakan satu kebohongan. Menurut teori peluang, itu berarti ketika dia membuka mulutnya lagi, ada kemungkinan dia berkata jujur 20.000 kali dan berkata bohong hanya satu kali.
            Ustad itu melanjutkan, “jadi hanya karena dalam 20.000 pernyataan yang dia sampaikan selama ini, dan hanya satu yang tidak benar, itu menjadikannya tidak bisa dipercaya lagi ? sepertinya 20.000 berbanding satu itu sangat bagus.”

#######

            Kita terlalu memusatkan perhatian pada kesalahan, pada kotorannya, bukan pada telurnya, kita membiarkan satu bagian negative menghancurkan semua bagian positivenya.
            Setiap ayam bertelur, sering kali disertai kotoran. Kalau seseorang terlalu perhatian pada kotorannya, bisa-bisa dia tidak akan mengambil telur itu. Padahal, kotorannya (yang hanya berada di kulit telur) bisa dibersihkan dan telur ayam itu enak dan menyehatkan.
            Ini sering terjadi, ketika orang yang dekat dengan kita melakukan sesuatu kesalahan, tiba-tiba saja kita mendapatkan kekecewaan yang sangat berat.
            Sebenarnya bukan mereka yang melukai kita, melainkan harapan kita yang melakukannya. Kita terlalu berharap bahwa orang terdekat atau pasangan kita ‘sangat baik’ sehingga tidak akan melakukan kesalahan. Kita lupa bahwa mereka manusia. Kita lupa bahwa kita pun kadang-kadang juga melakukan kesalahan.
            Satu hal yang harus kita lakukan ketika orang yang dekat dengan kita melakukan kesalahan adalah melihat kembali dia secara keseluruhan. Jika ini adalah kesalahan yang tidak fatal dan terlalu besar, berarti seharusnya tidak masalah. Ada begitu banyak kebaikan darinya yang tentu saja kalau dihitung akan menang telak daripada keburukannya. Lalu, lepaskan kesalahan sederhana itu dan buat perjanjian dia tidak mengalami kesalahan sama atau serupa. Berhenti hanya melihat keburukan, dan mencoba melihat kebaikan.

sumber : book lelaki, gadis, dan kopi campur garam

No comments:

Post a Comment