Bill Hoover adalah seorang pilot penguji
terkenal dengan sering tampil dalam pertunjukkan udara. Sebelumnya, seperti
yang dijelaskan dalam majalah flight
Operations, dalam sebuah penerbangan, kedua mesinnya mendadak berhenti pada
ketinggian tiga ratus kaki di udara. Untung saja dia sudah sangat
berpengalaman, sehingga dia berhasil mendaratkan pesawatnya dengan selamat.
Namun, pesawat itu rusak parah meski tak seorang pun cedera.
Tindakan Hoover yang pertama setelah
pendaratan itu adalah memeriksa bahan bakar pesawat. Persis seperti yang
dicurigai, pesawat baling-baling perang dunia II yang telah diterbangkannya itu
ternyata diberi bahan bakar jet, bukan bensin. Itu bahan bakar yang salah.
Pesawat lamanya tidak akan bisa mengadopsinya.
Begitu kembali ke bandara, dia minta
bertemu dengan mekanik yang telah merawat pesawatnya. Lelaki muda itu begitu
gemetar karena rasa takut akan kesalahannya. Air mata dan keringat bercucuran
mengalirdi wajahnya begitu hoover datang mendekat. Dia baru saja hampir
menyebabkan nyawa orang melayang.
Anda bisa membayangkan kemarahan Hoover.
Setiap orang tentunya berpikir bahwa caci-makilah yang akan keluar dari lidah
pilot tersebut atas kecerobohan seorang mekanik. Dan itu sangat wajar, semua
orang akan memaklumi kemarahannya.
Tetapi, Hoover tidak memarahi
mekanik itu. Dia bahkan tidak mengkritiknya. Sebaliknya, dia memeluk bahu sang
mekanik dan berkata, “untuk menunjukkan kepada anda bahwa saya yakin anda tidak
pernah melakukannya lagi, saya ingin anda merawat F-51 saya besok.”
########
Kalau kita menjadi mekanik itu,
bagaimana perasaan kita ? takutnya pasti iya, kita berbuat kesalahan besar dan
hampir merenggut nyawa orang. Apalagi orang yang terkenal. Mungkin kita juga
akan gemetaran membayangkan hukuman penjara, kemarahan meledak-ledak, atau
lebih buruk lagi dihajar. Dan pada saat mengalami seperti itu, kita pasti
mengharapkan agar diampuni dan agar tidak di penjara atau dipukul.
Lalu, ketika Hoover mengatakan
“untuk menunjukkan pada anda bahwa saya yakin anda tidak pernah melakukannya
lagi, saya ingin anda merawat F-51 saya besok.”, apa yang kita rasakan ?
perasaan lega luar biasa.
Dari pengalaman itu, pastinya kita
tidak akan melakukan kesalahan lagi karena kita sudah dimaafkan, dan malah
dipercaya lagi. Begitu juga yang dilakukan mekanik itu. Dia tidak pernah
berbuat kesalahan lagi karena dia teringat peristiwa itu dan merasa berutang
budi.
Daripada kita membayangkan menjadi
mekanik itu, kenapa kita sekarang tidak membayangkan sebaliknya. bagaimana
kalau ada orang yang berbuat salah, kita maafkan, lalu kita beri juga dia
kepercayaan ? bukankah ketika membayangkan menjadi mekanik itu, kita berharap
pemaafan dan kesempatan lagi ? pasti begitu juga orang yang bersalah kepada
kita.
Lagipula, selalu lebih baik
memaafkan daripada di maafkan. Dan, selalu lebih baik bukan kita yang berbuat
kesalahan.
sumber : book lelaki, gadis, dan kopi campur garam

No comments:
Post a Comment